Aku Tidak akan Menangis di Sini

Aku tidak akan menangis di sini,

walaupun sayap-sayapku dipatahkan secara serampangan,
diserakan ke dalam lumpur praduga dengan caci maki dan jeritan yang mengoyak telinga. Lemparkan semua sampah itu ke mukaku, bahkan apa yang tidak aku lakukan, tuduhkan semua itu, tapi aku tidak akan menangis di sini.

Saat mantra-mantra pengikat jiwa dibacakan, juga sihir-sihir pelepas raga yang membuat hati menjerti, berharap aku menyerah dan melepas pasi-pasir harapan yang ku genggam sejak lama, hanya agar aku bisa berdiri memandang mentari sore seorang diri. Tapi aku tidak akan menangis di sini.

Seruan kelabang malam mencabik kulit, menusuk dalam ke sukma, menguburku ke dalam kubur ke tujuh, berharap aku tunduk pada maut. Walaupun tenagaku hampir habis, aku tidak akan menangis di sini.

Ku kumpulkan tetesan embun di dalam sunyi, menatap masa depan yang entah seperti apa bentuknya, mencari sso yang bisa aku tumpahkan pedih ini bersamanya, menjerit bersamanya, tanpa perlu takut untuk dicurigai, tanpa perlu takut diragukan, karena aku tahu orang itu akan  mempercayai aku sepenuhnya, tapi tidak di sini, tidak di sini aku menangis.

Comments (1)

ceritaku

Di saat-saat seperti ini, aku merindukanmu, ceritaku. Saat aku galau, dengan tetesan air mata yang membuatku kabur akan apa yang disebut hidup, cinta dan persahabatan. Saat segalanya seperti kabut pagi yang diungsikan biru ke cerobong-cerobong rokok jalan, dihempas oleh motor tak berSIM dan semuanya menjadi meluka menganga di biduanku tak tertera; mengais-ngais pedal di batas kata.

Pagi ini hatiku tersesat, berpaku pada layar kosong tanpa mengerti nurani kalbu. Anganku memburu sepenggal ingatanku yang mengisih malam-malamku seperti lilin malam yang lunglali. Kenapa aku harus dinilai? Diperlakukan dengan prasangka, asumsi, dan semua bau busuk itu? Apakah aku seperti momok ujian yang ingin sekali dilempar saat susah untuk menurut semua aturan sosial? Apakah aku harus menjadi seperti anjing yang menurut saja kemauan majikanku yang bermarga Sosial? Atau mungkin aku gak pernah akan cocok dengan kota ini? Dengan orang-orangnya. Atau mungkin aku memang harus terdampar pada sisi ruang hampa sehingga semua orang bisa menjalankan kembali hidup mereka tanpa harus merasa terganggu dan terancam olehku.

Kenapa harus ada epik dalam drama kehidupan?

Karena mungkin aku bukan tokoh yang cocok dalam drama ini…… Mungkin karena itu aku selalu merindukan ceritaku ini, saat sekelilingku pudar dan lampu mulai padam, meninggalkan diriku terbujur kaku, dengan air mata yang mengalir tanpa nafas….

Comments (1)

Wajah Mashuri

Di wajahmu aku tersudut dalam luka lalu. Tidak kutemukan kini yang bisa mencuri hatiku, menekuri pintu, juga jendela, dengan ruang terbuka, sehingga kita bisa saling mendesah seperti angin.
Aku tersudut di ruang yang sama, ketika seprempat abad memapahku ke lekuk pipi, rongga mata, juga sepi yang tiba-tiba membujur di keningmu, amsal pikiran-pikiran beku. Aku seperti selalu saja berpulang ke palung galibmu, hingga kurasakan salib menelantangkanku di ranjang karang, lalu cambuk gelombang menghujamku dengan sayatan-sayatan laut.
Pada kegaiban yang terwarta dari bibirmu: ceracau asing, bahasa-bahasa gasing, juga setumpuk mimpi yang meletup dari kebisuan, memalingkanku untuk memberimu ruang di matakku. Sungguh telingaku tidak tuli untuk mendengar nyanyian sunyimu. Sungguh derap dadaku tak segelap sumur tanpa angan-angan, ketika kutangkap riuh redap puisi yang kau lulur dari bibir dan takdirmu. Sungguh alur kata yang melata dan kubur panjang penyair yang sempat tak tercetak di kiblat buku-buku, seperti seorang gasang yang tidak terkendali untuk ditemali kembali bermadah.
Tetapi segalanya demikian senyap, sesenyap pikiran-pikiranku ketika hari tidak kunjung berlalu ke siang, ketika mimpi masih saja dibuhulkan pelangi malam, ketika gerak selalu saja berkumpar diam.
Di wajahmu aku kembali tersudut ke luka lalu. Seperti seorang peziarah yang terbata membaca denah, seperti anak perawan sedang bercinta, seperti orang yang hilang rimba, ketika nama-nama seasing dunia ketika Adam turun tuk pertama.
Segalanya baru, meski sebenarnya bukan baru. Segalanya seperti kabut yang diungsikan biru ke luas samudera. Dihempas dan dikaramkan ombak tak berpeta lalu segalanya luka, meluka menganga di biduanku tak tertera: mengais-ngais ritmis kata di batas cakrawala.

Comments

Wendoko

Kalo ingat puisi ini, ingatanku mamaku pada seorang teman lama yang baru-baru ini berjumpa. Kalo kamu penasaran, coba dengarkan nyanyian empat babak ini,
——————

Seperti ku kenal senja itu, ketika cuaca begitu lindap.
Langit bagai lengkungan payung legam besi,
dengan bongkahan awan, dan sebelum gelap -
udara melembab dan angin tak bergerak.

Seperti ku kenal senja itu, ketika gerimis beringsut reda.
Rintik air bagai tirai tersamar, tapi begitu rapat dan sekejap,
semak dan pohonan memantulkan warna -
dan mungkin cahaya.

Tetapi embun itu rontok dari daun.
Lalu kekasih, seperti bertahun yang lalu
kau pun merasa ada yang tersisa dari musim;
ada yang terlambat, dan sia-sia
sesaat ketika cuaca meranggas
dan musim hampir senja.

Tetapi, bukankah matahari hanya sebentar.
Juga angin atau musim.
Tetapi, apakah kenangan bisa jadi lain,
sementara dedaunan patah dari ranting.
Tetapi, haruskah mengulang sejarah,
hanya untuk menemukan kisah.

Dan selalu, embun itu pun
rontok dari daun

Siapakah kau yang tiba-tiba melintas dalam benakku?
Kadang cinta adalah embun, katamu.
Ia bisa hinggap di rumput, daun, dan menghembuskan kesejukan.
Tetapi selepas pagi, ia mengering - lalu lenyap.

Siapakah kau yang tiba-tiba melintas dalam benakku?
Di tempat ini musim sore tak pernah abadi.
Saat malam turun, dan sunyi mengetuk pintu dan jendela.
Seperti kabut, kadang cinta adalah mimpi dan sinetron.

Dan sebelum lepas senja
apakah aku pun lantas berkata,
bahwa musim sudah berubah…

Tetapi bukankah sesaat cuaca begitu meneduh
dan langit yang jernih, dengan awan dan bening cahaya,
atau matahari yang lindap tetapi menajamkan warna
adalah juga lanskap yang dulu…

Hanya kini
kau tak ada.

Comments

Under the Light

Sous la lumière en plein
et dans l’ombre en silence
si tu cherches un abri
Inaccessible
Dis toi qu’il n’est pas loin et qu’on y brille

A ton étoile

Petite sœur de mes nuits
ça m’a manqué tout ça
quand tu sauvais la face
à bien d’autre que moi
sache que je n’oublie rien mais qu’on efface

A ton étoile

Toujours à l’horizon
Des soleils qui s’inclinent
comme on a pas le choix il nous reste le cœur
tu peux cracher même rire, et tu le dois

A ton étoile

A Marcos
A la joie
A la beauté des rêves
A la mélancolie
A l’espoir qui nous tient
A la santé du feu
Et de la flamme
A ton étoile

Comments (1)

Jurnal kecoak busuk

Ternyata cinta hanya milik orang-orang kaya, hanya milik orang-orang pintar, berparas rupawan, dan yang kebetulan bersuku dan beras sama. Ketulusan dan kesetiaan sudah menjadi cerita lama nan usang, atau mungkin tidak pernah ada sebenarnya, hanya ada di negri dongeng, di mana harapan dan imajinasi bertemu dalam jagad karya, bukan dalam hidup yang sesungguhnya. Apa lagi bagi kecoak busuk, hanya dalam lembaran ini saja cinta itu ada.

Apa yang mampu dijual oleh kecoak busuk, sehingga dia pantas mendapatkan cinta?

Air mata? Itu jawaban goblok, karena kecoak tidak bisa menangis.

Mungkin karena warna kulit? Itu lebih goblok, karena mana ada orang suka warna hitam?!!

Ah, aku tahu! Sahut kecoak. Karena aku menjijikan!

Dengan gembiranya kecoak menemukan jawaban untuk dirinya sendiri. Setahuku, memang kecoak saat ini sedang dicintai, sebagai extreme kuliner.

Mungkin jika tidak ada pilihan lain, perempuan lebih memilih sebagai pelacur dari pada harus memilih kecoak busuk – karena pada kenyataannya memang tidak ada perempuan yang makan kecoak busuk, apa lagi seorang ratu yang cantik, benar-benar kecoak busuk merindukan tuk di makan.

Suatu waktu, kecoak busuk berjumpa dengan ratu, ratu yang manis rupanya, sayang itu adalah ratu kenyataan. Parasnya tidak sesuai dengan kenyataan. Saat di mana kecoak berjumpa dengan Ratu Kenyataan, saat itu juga dirinya rusak, dan tidak mungkin dapat diperbaiki lagi. Seperti boneka kayu kehilangan tali, kehilangan pemain, tergletak ringsak di sudut gudang. Sudah sekarat dan tidak dapat diperbaiki lagi. Semua karena satu hal. Semua karena satu orang. Seandainya otak itu dapat direbus, sehingga tidak pernah ada lembaran ingatan mengenai putri yang pernah dicintainya.

Dengan setengah badan terpisah, dia bertanya, ‘Kenapa Tuhan menghukum aku disini? Apa salahku? Hahahahaha tentu saja karena aku kecoak busuk!’. Bukan. Memang bukan begini suaranya. Aku menterjemahkannya agar kamu mengerti apa yang diucapkan kecoak busuk.

Hidupnya sangat singkat, demikian juga isinya; penderitaan, duka, patah hati. Sebentar lagi semua ini akan selesai, sama seperti hari-hari dan tahun-tahun yang tidak terasa terlewati oleh kecoak busuk. Sama seperti hari ini, tidak terasa sudah hampir senja, dan akhirnya satu hari lagi terlewati - satu bulan lagi terlewati - satu tahun lagi terlewati - satu kehidupan lagi terlewati - dan semuanya itu akan berhenti disana. Maka berakhirlah kisah hidup si kecoak busuk.

Comments (3)

Mati tanpa Kubur

Asap dupa tanpa roh
Membakar layu sisa belulang
Embun mengalir berkalang tanah
Petaka datang memberi ruang
Mendekam mati tanpa kubur

Satu-satu kuhirup sukma
Melayang berjemaah tanpa bayang
Berderak-derak api membara
Menelan pekat bayangan arang
Pergi mati tanpa kubur

jo

Comments

Malam Sunyi

Malam ini sunyi, tapi bukan malam kudus
Bintang mengerlingkan cahayanya, membentang di antara jagad

Malam ini senyap, tapi tidak ada bayi yang lahir
Hanya duka di antara semesta, menyelimuti kalbu

Setetes rindu tersesap dalam sanubari
Kenapa kamu lagi yg datang kemari?
Sampai kapan mengikuti?
Sudah tidak ada ruang di sini,
sesak olehmu dalam diri…!

Apa perlu kuulangi?!!
Pergii…!
Pergiiii…!!!

Diantara salju dan pohon
hiasan dan tawa natal
aku berjalan bergandeng maut

Comments (1)

cinta bertanya

Apakah yang sempurna itu? Datangnya cinta atau sang pencinta? Atau mungkin cinta itu sendiri?
Apa yang membuatnya sempurna? Apa karena rupa, karena seseorang atau karena cinta itu sendiri?
Jika karena seseorang, apa gunanya cinta? Tapi jika karena cinta, maka cinta mencintai cinta; apa gunanya seseorang?

Sepi? Taukah cinta tentang sepi? Mengertikah cinta tentang kesepian?

Sering kali mereka mengusirku sebelum mengenalku. Apa karena aku tidak mengenal cinta? Atau karena cinta tidak sudi mengenalku?
Mungkin cinta hanya mengenal rupa. Mungkin cinta hanya tahu yang sempurna dari yang tidak sempurna.

Peluklah aku sepi. Temani aku air mata. Sebab cintaku berderai duka, melesak mencari sempurna.

Ah aku ingat sekarang! Bukan karena cinta, bukan juga karena rupa. Tapi karena ada kamu cinta itu sempurna. Bukan karena rupa, tapi karena kamu, cinta menjadi lengkap. Bukan, bukan, bukan karena rupamu yang sempurna, bukan karena tutur cakapmu yang sempurna - itu semua jauh dari sempurna; tapi justru itu yang sempurna untuk dijalani aku, sebagai manusia yang tidak sempurna.

Sempurnakan aku dengan tidak sempurna sayang, maka cintaku menjadi indah untuk dicintai.

Comments (2)

doa sebelum tidur

Kuminta malamku padamu
Kuminta tidurku padamu
Kuminta nyenyak padamu

Kuminta
Bintang,
bantal,
dan bunda tidur,
juga yang bisa kini kuminta

Kuminta kantuk dan pulas
datang menyelimutiku

Kuminta bangun esok pagi

Comments (3)

« Previous entries