catatan tanggal 23
Hari ini, sesuatu yg menarik terjadi di tempat kerja. Untuk pertama kalinya menjadi konselor, konselor pernikahan; untuk pertama kalinya, melihat secara langsung manisnya cinta menjadi getirnya dendam, indahnya keluarga menjadi neraka dunia.
Klienku seorang pria (33), dengan usia pernikahan lima tahun, belum dikaruniakan anak, dan bahtera pernikahan terancam kandas. Yang mengherankan adalah sang istri tidak mau untuk konseling. Biasanya justru sang istri yang berusaha untuk mempertahankan pernikahan. Malah yang minta untuk cerai adalah sang istri. Saya tidak akan berkomentar siapa yang salah, atau apa permasalahan dia, atau sebaiknya cerai atau tidak. Tapi ini membuat saya merenung.
Terkadang yang sering miss dari saya bahwa pernikahan tidak seindah seperti film atau imajinasi, atau berpikir bahwa pernikaha merupakan sebuah tujuan, final dari perjalanan cinta. Justru pernikahan merupaka awal perjalanan yang berat dan melelahkan. Tidak ada satupun pernikahan yang mudah, tidak ada satu pun pernikahan yang indah, tidak ada satupun pernikahan yang bahagia! Agar pernikahan itu indah dan bahagia, hanya satu jalan keluar, pernikahan itu harus diusahakan, di perjuangkan dengan kerja keras. Tentunya bahwa kata ‘cerai’ harus dibuang jauh-jauh dari kamus kehidupanku — itu mutlak.
Setelah konseling tersebut, saya agak ngeri juga dengan yang namanya instansi pernikahan. Baru kali ini melihat secara nyata dan dekat mengenai masalah-masalah pernikahan. Baru sampai pada masa pranikah saja sudah banyak air mata yang harus saya keluarkan, apa lagi sesudah menikah, bisa-bisa sungguhan nangis darah.
Bahkan untuk pasangan yang telah lama saling mengenal (klien tadi siang sudah empat tahun pacarah sebelum akhirnya memutuskan untuk menikah). Setelah menikah, pasti semua pasangan akan berkomentar, ;ternyata dia tidak seperti dulu’ atau ‘ setelah menikah dia berubah, tidak lagi mengerti aku’. Seharusnya saat saya memilih untuk menikah, bukan cinta yang menjadi landasan, namun komitmen, komitmen untuk mencintai. Mungkin saya tidak bisa menikah dengan orang yang saya sayangi, namun mutlak saya harus menyayangi orang yang saya nikahi (walaupun mungkin tidak akan pernah saya lakukan).
Maka dari itu jika tidak mampu melakukannya, pleass don’t try it. Lebih baik menderita karena sendiri dari pada harus menderita karena menikah. Saya tidak akan pernah tahu siapa sebenarnya orang yang akan saya nikahi sampe akhirnya menikahinya; yang saya tahu hanya 1/3 dari kebenaran sebelum saya menikah.
Sunggu lebih ngeri membayangkan pernikahan (apa lagi dengan orang yang saya tidak yakin) dari pada menonton ’snake on a plane’.
Bulan depan dijadwalkan untuk kembali konseling lagi, hope kali itu head senior saya berhalangan, sehingga saya bisa lihat kemajuan hubungan mereka. Berharap saran-saranku tidak buruk.