Archive forOctober, 2006

catatan tanggal 23

Hari ini, sesuatu yg menarik terjadi di tempat kerja. Untuk pertama kalinya menjadi konselor, konselor pernikahan; untuk pertama kalinya, melihat secara langsung manisnya cinta menjadi getirnya dendam, indahnya keluarga menjadi neraka dunia.

Klienku seorang pria (33), dengan usia pernikahan  lima tahun, belum dikaruniakan anak, dan bahtera pernikahan terancam kandas. Yang mengherankan adalah sang istri tidak mau untuk konseling. Biasanya justru sang istri yang berusaha untuk mempertahankan pernikahan. Malah yang minta untuk cerai adalah sang istri. Saya tidak akan berkomentar siapa yang salah, atau apa permasalahan dia, atau sebaiknya cerai atau tidak. Tapi ini membuat saya merenung.

Terkadang yang sering miss dari saya bahwa pernikahan tidak seindah seperti film atau imajinasi, atau berpikir bahwa pernikaha merupakan sebuah tujuan, final dari perjalanan cinta. Justru pernikahan merupaka awal perjalanan yang berat dan melelahkan. Tidak ada satupun pernikahan yang mudah, tidak ada satu pun pernikahan yang indah, tidak ada satupun pernikahan yang bahagia! Agar pernikahan itu indah dan bahagia, hanya satu jalan keluar, pernikahan itu harus diusahakan, di perjuangkan dengan kerja keras. Tentunya bahwa kata ‘cerai’ harus dibuang jauh-jauh dari kamus kehidupanku — itu mutlak.

Setelah konseling tersebut, saya agak ngeri juga dengan yang namanya instansi pernikahan. Baru kali ini melihat secara nyata dan dekat mengenai masalah-masalah pernikahan. Baru sampai pada masa pranikah saja sudah banyak air mata yang harus saya keluarkan, apa lagi sesudah menikah, bisa-bisa sungguhan nangis darah.

Bahkan untuk pasangan yang telah lama saling mengenal (klien tadi siang sudah empat tahun pacarah sebelum akhirnya memutuskan untuk menikah). Setelah menikah, pasti semua pasangan akan berkomentar, ;ternyata dia tidak seperti dulu’ atau ‘ setelah menikah dia berubah, tidak lagi mengerti aku’. Seharusnya saat saya memilih untuk menikah, bukan cinta yang menjadi landasan, namun komitmen, komitmen untuk mencintai. Mungkin saya tidak bisa menikah dengan orang yang saya sayangi, namun mutlak saya harus menyayangi orang yang saya nikahi (walaupun mungkin tidak akan pernah saya lakukan).

Maka dari itu jika tidak mampu melakukannya, pleass don’t try it. Lebih baik menderita karena sendiri dari pada harus menderita karena menikah. Saya tidak akan pernah tahu siapa sebenarnya orang yang akan saya nikahi sampe akhirnya menikahinya; yang saya tahu hanya 1/3 dari kebenaran sebelum saya menikah.

Sunggu lebih ngeri membayangkan pernikahan (apa lagi dengan orang yang saya tidak yakin) dari pada menonton ’snake on a plane’.

Bulan depan dijadwalkan untuk kembali konseling lagi, hope kali itu head senior saya berhalangan, sehingga saya bisa lihat kemajuan hubungan mereka. Berharap saran-saranku tidak buruk.

Comments (2)

adakah kasih (Tuhan) ?

Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada?

Apakah
kejahatan itu ada?
Apakah
Tuhan menciptakan kejahatan?

    Seorang Profesor
dari
sebuah universitas
terkenal menantang mahasiswa-mahasiswanya
dengan
pertanyaan ini,
"Apakah
Tuhan menciptakan segala yang ada?".

Seorang mahasiswa dengan berani
menjawab, "Betul, Dia
yang menciptakan
semuanya". "Tuhan menciptakan semuanya?"
Tanya
professor sekali lagi.
"Ya,
Pak, semuanya" kata mahasiswa tersebut.

Profesor itu menjawab, "Jika Tuhan menciptakan
segalanya, berarti
Tuhan
menciptakan Kejahatan. Karena kejahatan itu ada,
dan
menurut prinsip
kita
bahwa pekerjaan kita menjelaskan siapa kita, jadi
kita
bisa berasumsi
bahwa
Tuhan itu adalah kejahatan."

Mahasiswa itu terdiam dan tidak bisa menjawab
hipotesis professor
tersebut.
Profesor itu merasa menang dan menyombongkan
diri
bahwa sekali lagi dia
telah membuktikan kalau agama itu adalah sebuah
mitos.

    Mahasiswa lain mengangkat tangan dan berkata,
"Profesor, boleh saya
bertanya
sesuatu?"

"Tentu saja," jawab si Profesor

Mahasiswa itu berdiri dan bertanya, "Profesor,
apakah
dingin itu ada?"

"Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja dingin itu
ada.
Kamu tidak
pernah
sakit flu?" Tanya si professor diiringi tawa
mahasiswa
lainnya.

Mahasiswa itu menjawab, "Kenyataannya, Pak,
dingin itu
tidak ada.
Menurut
hukum fisika, yang kita anggap dingin itu adalah
ketiadaan panas. Suhu
-460F adalah ketiadaan panas sama sekali. Dan
semua
partikel menjadi
diam
dan tidak bisa bereaksi pada suhu tersebut. Kita
menciptakan kata
dingin
untuk mendeskripsikan ketiadaan panas.

Mahasiswa itu melanjutkan, "Profesor, apakah
gelap itu
ada?"

Profesor itu menjawab, "Tentu saja itu ada."

Mahasiswa itu menjawab, "Sekali lagi anda salah,
Pak.
Gelap itu juga
tidak
ada. Gelap adalah keadaan dimana tidak ada
cahaya.
Cahaya bisa kita
pelajari, gelap tidak. Kita bisa menggunakan
prisma
Newton untuk
memecahkan
cahaya menjadi beberapa warna dan mempelajari
berbagai
panjang
gelombang
setiap warna. Tapi Anda tidak bisa mengukur
gelap.
Seberapa gelap suatu
ruangan diukur dengan berapa intensitas cahaya di
ruangan tersebut.
Kata gelap dipakai manusia untuk mendeskripsikan
ketiadaan cahaya."

    Akhirnya mahasiswa itu bertanya, "Profesor,
apakah
kejahatan itu ada?"

Dengan bimbang professor itu menjawab, "Tentu
saja,
seperti yang telah
kukatakan sebelumnya. Kita melihat setiap hari di
Koran dan TV. Banyak
perkara kriminal dan kekerasan di antara manusia.
Perkara-perkara
tersebut
adalah manifestasi dari kejahatan."

Terhadap pernyataan ini mahasiswa itu menjawab,
"Sekali lagi Anda
salah,
Pak. Kajahatan itu tidak ada. Kejahatan adalah
ketiadaan Tuhan.
Seperti
dingin atau gelap, kajahatan adalah kata yang
dipakai
manusia untuk
mendeskripsikan ketiadaan Tuhan. Tuhan tidak
menciptakan kajahatan.
Kajahatan adalah hasil dari tidak adanya kasih
Tuhan
dihati manusia.
Seperti
dingin yang timbul dari ketiadaan panas dan gelap
yang
timbul dari
ketiadaan
cahaya."

Profesor itu terdiam.

Nama mahasiswa itu adalah Albert Einstein.

Di sadur dari mana harian

Comments