Archive forMay, 2007

Just Kidding

    Berapa banyak orang yang sudah membuat kita diam seribu bahasa, or malu tujuh rupa, dan di akhir perbuatan mereka, mereka hanya berujar, "just kidding" *sambil ketawa ketiwi*. Mungkin memang hanya goyon, tapi sikonnya gak tepat (misalnya candain orang yg habis di putus ma cowonya), or kitanya memang yg sensitivf (diliatin aja udah ngambek, apa lagi diajak ngomong). Atau mungkin juga bercandanya tidak sedang bercanda.
    Dulu, sewaktu SMU saya berkali-kali mengingatkan, "kalo bercanda tuh yg serius, jangan main-main" *dengan sikap seorang guru sambil nunjuk-nunju pake penggaris* (ya gak lah..). Mungkin sama seperti temen-temen saya sewaktu SMU, anda berpikir bahwa saya ini seorang yg sangat serius, tidak pernah tertawa, berkaca mata tebal, yg selalu berjalan dengan cepat, menunduk, sambil berpikir teori relatifitas itu keliru. Nyatanya memang saya sering memikirkan teori relatifitas, berjalan dengan cepat kelo sedang buru-buru, sambil nunduk karena malu kalo terlihat lagi belekan dan berkacamata tapi tidak tebal kok, sedang-sedang aja. Dan yg paling penting saya senang tertawa. Kata guru tertawa itu sehat. Tapi tertawa tanpa sebab itu pasti karena lupa minum obat.
    Maksud dari "kalo bercanda tuh yg serius, jangan main-main" adl, jangan gunakan bercanda utk hal yg tidak pada fungsinya. Contoh, kalo kita ganti kata bercanda dengan kalimat mengerjakan yg lain seperti "kalo nyetir tuh yg serius, jangan main-main" berarti dapat disimpulkan menyetir bukan utk main-main. Tujuan menyetir adl membawa kendaraan + pengemudi + penumpang + bawaan sampe ditempat tujuan dengan baik (memang saat ini sudah banyak pergesaran fungsi dari menyetir itu sendiri, tapi kira-kira demikianlah fungsi yg diharapkan dari luluhur kita yg telah menciptakan kendaraan).
    Dengan contoh yg nyerempet gak nyambungnya ini, disimpulkan kalo bercanda itu merupakan pekerjaan yg serius. Makanya karena bercanda itu pekerjaan yg seirus, orang di bayar untuk bercanda (walopun terkadang gak lucu), untuk membuat orang lain tertawa, untuk menghibur orang lain, sama seperti profesi yg lain, seperti pengacara (dibayar utk membebaskan tertuduh, walopun gak jadi bebas), dan dokter (dibayar utk menyembuhkan orang, walopun gak sembuh juga kudu bayar, bahkan yg ironis mati pun kudu bayar).
    Tujuan dari bercanda kira-kira begin, membuat orang tertawa, menghibur, menyegarkan suasana, mengakrabkan hubungan, mempermudah pembicaraan. Ya boleh ditambahkan lagi dengan lebih ditail, tapi kira-kira begitulah. Nah sayangnya banyak dari kita tidak benar-benar demikina saat bercanda. Kebanyakan dari kita bercanda hanya untuk membuat dirikita tertawa atau senang, sedangkan orang lain justru merasa tidak terhibur, bahkan marah. Bahkan yg parah bercanda utk mempermalukan sso. Nah yg kek gini-ini nih yg saya maksud tidak serius dalam bercanda. Kita sebenarnya tidak benar-benar sedang bercanda namun sedang memperdayai sesama kita. Acap kali kita melontarkan guyon untuk menghina sso, or sesungguhnya menjatuhkan dia sambil berlindung dibalik kata-kata, "just kidding" (hayo ngaku loe?!). Dari yg motifasinya hanya untuk menyenangkan diri sendiri (loe pikir lucu?!) sampe memang ingin mempermalukan orang tsb di depan umum (percayalah, ada orang-orang yg melakukan ini demi bisnis, popularitas bahkan gebetan).
    Saya sendiri sering mengalaminya, tentunya sebagai korban. Salah-satunya terjadi beberapa tahun yg lalu. Setidaknya saya masih ingat kejadian ini karena sempat shock, karena yg bicara saya anggap teman, karena menurut saya dia punya kredibilitas utk tidak melakukan hal ini. But saya cerita bukan karena masih dendam, tapi semata-mata hanya sebagai contoh nyata dari kehidupan yg ternyata tidak semuanya bisa dilihat dengan mata. Sebut saja orang ini A. Si A ini saat itu berpacaran dengan teman dekat saya, yg kita sebut saja B. Kami satu mobil sedang muter-muter kota, yg kita sebut saja kota C, dengan mobil D (hehehe fariabelnya banyak pisan yak). Terus sembari muter-muter kek helikopter di tengah kota C, tercetuslah sebuah pembicaraan berandai-andai nanti kalo sudah punya anak. Kira-kira beginilah isi pembicaraannya.

A: eh Da, tadi kami ngbrol2 mau punya anak berapa. Loe mau punya anak berapa?
gw: dua aja cukup, biar menyukseskan KB. Loe?
A: gw juga gak mau banyak2, pa lagi nih sih B juga bakalan mau jadi wanita kerir
B: iya, nanti gak keurus kalo banyak2. Eh nanti kalo gw punya anak, nitip di rumah loe aja ya Nes?
gw: wew, yg bikin siapa yg ngurus siapa. Ogah ah, nanti anak2 loe pada gak ngenalin siapa orangtuanya. Ada juga pas sewaktu kalian ngambil, anak loe ngomong ke gw, "pa siapa tante ma om itu?" brabeh kan
A: gak lah, ada juga anak gw bakalan ngomong, "pa, takut! Siapa tuh om2 item bangat kek aspal??!" sambil lari2 ke gw

Wew keren bangat tuh ngomongnya, kalo gak ada ortunya si B sudah gw jadikan pajangan pohon natal. Iye tau gw item, tapi gak sama seperti aspal yak.

    Sontak abis ngomong gitu, suasana jadi dingin gitu. Ortu si B cuma senyum tipis, sedangkan temen gw B berusaha cairkan suasana sambil ngomong, "ih jahat bangat sih loe." sambil senyum gak enak ke saya. Saya sangat-sangat tidak bermasalah dengan guyon tsb, apa lagi gambar diri saya sudah pulih sejak ikut dan paham mengenai Hati Bapa. Sempat sih terbersit utk membalas joke tsb, or paling tidak menegur secara halus, cuma saya tahan karena sangat-sangat menghonrmati teman saya B.
    Terkadang kita bisa sangat peka, sehingga tahu guyon tsb benar-benar bermaksud canda, atau sindiran, atau mempermainkan orang lain.
    Raja Daud sangat paham mengenai bagaimana hati manusia sehingga dia menulis ‘ …Demikianlah orang yang peperdaya sesamanya dan berkata :"aku hanya bersandagurau"…’ (Ams 26:19). Mungkin kayanya biasa bangat, atau hal yg terlalu dibesar-besarkan. Cuma kita tidak akan benar-benar pernah tahu apa yang telah kita lakukan saat melukai hati orang dengan kata-kata kita. Lagi pula kalo mau jujur, sesungguhnya tidak ada yg menganggap lucu saat dirinya menjadi bahan tertawaan, apa lagi fisik mereka, tidak saya tidak juga anda, karena pasti anda akan berakhir sebagai salah-satu anggota serimulat. Justru orang-orang akan mentertawakan ketololan anda.
    Mulai sekarang berhentilah menjadikan fisik or orang lain sebagai obyek guyon anda (karena anda tidak pernah tahu mereka benar-benar menggap hal yg lucu atau marah), dan berhentilah bercanda jika tujuan anda sebenarnya untuk mempermalukan seseorang. Jika ada orang yg ingin anda tertawakan, mulailah dari diri anda sendiri.
    Orang yang cerdas terlihat dari cara berpenampilan, dan joke-nya.

Jo

Comments

Potret Original Negri Kita

    Kemarin sepulang meeting dari blok M, saya menggunakan bus trans Jakarta sebagai alat transportasi saya untuk pulang ke kos. Tidak seperti biasanya yg menggunakan mobil, ini disebabkan karena mulai meeting di waktu orang-orang mulai pulang kantor, dan berlokasi dimana pada jam-jam tersebut terkenal dengan bloody trafic-nya. Alhasil saya berangkat dengan kendaraan terpopuler, ojeg (karena keputusan yang salah juga menggunakan busway pada jam-jam tersebut, kecuali jika ingin langsing seperti presto), dan pulang menggunakan busway.
    Tidak ada yang khusus sebelum meeting — kecuali saya harus lari kesana kemari mencari tukaran uang karena sang tukang ojeg tidak punya kembalian, selama meeting — kecuali bahwa saya akan buka perusahaan rekanan baru (doakan saya ya), dan sesudah meeting — kecuali saat saya turun dari busway.
    Tidak ada yang mengharukan saat saya beranjak turun dari bus menuju pintu keluar, karena saya tidak tersandung atau salah turun. Namun saat saya melangkah terburu-buru agar dapat menikmati bread talk di CL sebelum mall tesb tutup, dengan mata yg melotot dan tidak ketinggalan kata-kata makian kebun binatang terlontar dari mulut, saya terperanjat dengan pemandangan yg ada di selasar busway yg menghubungkannya dengan jembatan penyebrangan. Di pemandangan tsb anak perempuan kira-kira 2,5tahun terbaring tanpa celana, dengan kemaluannya (maaf) di colok-colok oleh seorang anak laki-laki yg beda usianya mungkin hanya 1tahun. Anak perempuan tsb terbaring menangis menahan sakit. Tentu saja saat saya memergoki hal tsb, anak laki-laki panik dan lari.
    Saya cuma berdiri terperanjat, diam seribu bahasa. Mungkin anda berpikir, ‘kenapa saya tidak mengejar anak laki-laki tsb dan memukulnya, atau paling tidak memarahinya?’. Guys! Anak laki-laki tsb tidak salah. Saat gw memaki juga, bukan ditujukan pada anak laki-laki tsb, tapi pada bangsa ini. Anak laki-laki tsb merupakan salah-satu korban dari reformasi yang kita bangga-banggakan. Apa yang bangsa ini lakukan pada generasi kita? Apa yang baru saya lihat adl potret paling original dari bangsa ini.
    Saya hampiri anak perempuan yang menangsi dalam kebisuan, mendudukannya dari posisi terbaring dan membujuknya dengan senyum. Setelahnya saya bingung sendiri apa yang akan saya lakukan. Memberikan treatment seperti korban perkosaan, tapi apa anak ini tahu dirinya di perkosa? Atau dia hanya menangis karena merasa sakit atau dikasari? Membujuknya dengan permen padahal kita tahu benar apa yang baru di alaminya? Akhirnya saya jawab semuanya dengan kebisuan, dan menangis bersama dia.
    Saya pulang setelah memberikan semua uang yang ada disaku celana saya. Bukan karena berpikir uang bisa membereskan segala sesuatu, tapi itu bentuk kasih terbaik yang bisa saya berikan dalam kondisi yang tidak baik.

    Tidak lama berselang (beberapa jam kemudian), di kamar kos sembari menonton Metro TV, munculah berita mengenai anak yg gisi buruk dan busung lapar. Anda tahu kasusu tersebut dimana? Di tengah-tengah kota megapolitan, Jakarta. Seorang anak yang diurus oleh neneknya karena kedua orangtuanya telah meninggal. Karena nenek tidak mampu bekerja, sehingga makan seadanya. Guys! Di kota-kota besar di Afrika sekalipun tidak di jumpai di tengah-tengah kotanya ada anak yg gizi buruk dan busung lapar. Di pelosok Thiland sekalipun atau Filipina sangat langkah ditemukan kasusu gizi buruk dan busng lapar. Okelah di luar pulau jawa or desa-desa terpencil di Indonesia masih ditemukan kasusu gizi buruk dan busung lapar, dengan alsan yang tidak rasional tapi bisa di terima oleh sebagian besar penduduk bangsa ini, tapi ini di Jakarta?? Can U belive that?!! Indonesia yang dulu jadi perebutan negara-negara Eropa karena terkenal subur dan rempah2 yang melimpah, tanam batu bisa tumbuh pohon, sekarang setelah merdeka, di kota paling besar dan maju seindonesia, di ibukota dari negara republik Indonesia, ditemukan anak gizi buruk dan busung lapar.
    Menurut saya seharusnya ini berita paling menggemparkan seluruh Indonesia, melebihi berita Untung Beliung Britama atau Gebyar BCA. Saya tidak bercanda. Ini ironi sekali. Dimana restoran-restoran baru buka di setiap sudut kota ini, bahkan hidangan-hidangan baru berlomba-lomba mencari pasar, tapi…. Saya tidak sedang mencoba hiperbola, cuma saya mengalami keluh dalam menggunakan bahasa verbal sehingga tidak tahu cara menuangkan emosi dalam tulisan karena intelektual saya shock, nalar saya bug….

    Hei generasi muda, ibu pertiwi sedang menangis. Air matanya ada dalam orang-orang yg terjajah, terjajah dalam kelaparan dan kurang gizi, terjajah dalam kemiskinan, terjajah dalam kebodohan, terjajah dalam intelektual dan aktualisasi. Apa yang bisa kamu lakukan untuk menghentikan air mata ibu pertiwi? Ini bukan tanggung jawab pemerintah, bukan tanggung jawab orang tua kita, ini tanggung jawabmu dan tanggung jawabku.

Comments

Humanity

    Pernah kebayang gak, ada seorang pria yg sudah punya istri super cantik, tapi masih selingkuh. Selingkuh dengan istri dari pegawainya yg saat itu sedang bertugas keluar kota. Padahal pegawai tsb paling setia dan paling loyal ke pada dia. Membayangkannya saja gak tega. Belum selesai sampai distu, saat tahu istri pegawainya mengandung, dia buru2 manggil pegawainya untuk pulang, dengan harapan si pegawai bakal tidur dengan istrinya sehingga nanti pegawainya berpikir istrinya mengandung anak dia. Ow man, licik en gak gentel!
    Eh ternyata sang pegawai gak ngajak istrinya tidur, karena dia masih kepikiran dengan tugas kantornya yang belum beres. Akhirnya karena putus asa, semua usaha untuk menutupi kebusukannya gagal, pria ini mengambil inisiatif paling berinisiatif, yaitu membunuh pegawainya sendiri. Akhirnya matilah pegawainya tanpa pernah tahu istrinya mengandung anak bosnya yg paling dia percaya dan hormati.
    Hukuman apa yang paling pantas untuk orang yang memalukan ini? Mungkin sebagian dari kita bakal berpikir, ‘nih orang pantasnya di cincang lalu dagingnya buat makanan anjing’ or kalo terlalu sadis, ‘nih orang di cocol cabe aja matanya’ eh masih sadis juga ya. Eniwei asal tahu saja ini adalah orang nomor satu pada masanya. Orang paling jaya, termasyur dan terkenal paling gentel. Dialah raja Daud, orang yg dijuluki ‘ada di hati Allah’, yang menulis pasal paling banyak di alkitab….
    Ironis? Nope. Justru ini menggambarkan hati Allah yang sesungguhnya. Hei man, Allah gak lihat apa yg orang lain lihat, dan orang lain tidak lihat apa yg Allah lihat dalam dirimu.

    Dulu saya termasuk dari orang-orang yang melihat kesalahan tanpa mau
perduli mengapa orang tersebut melakukan kesalahan. Padahal tidak ada
orang yang benar-benar ingin melakukan pelanggaran. Ya benar, ini cara
berpikir orang-orang humanistik, dan saya salah-satunya. Cara
berpikir yang di mulai dari semua orang adalah baik (tolong dibedakan
antara ‘baik’ dengan ‘benar’ karena semua orang memang adl baik, tapi tidak semua orang
benar or dibenarkan). Air mata sama menyenangkannya dengan tawa, benci sama mengharukannya dengan cinta, orang dewasa sama kekanakannya dengan anak kecil, hal yang jahat sama pentingnya dengan kebaikan, kebohongan sama jujurnya dengan kebenaran. Bukan maksud saya mengatakan kejahatan adalah kebaikan dan bohong adalah hal yang baik, namun itu semua merupakan bagian dari humanity, hal yang jujur dari mahluk sosia yang kita sebut manusia.
    Sebagai contoh, saat orang berbohong, memang informasi yg dia berikan menyesatkan atau tidak benar, tapi informasi yg dia berikan sama pentingnya dengan informasi yg benar karena faktanya kita tahu dia berbohong. Sebagai contoh kongkrit, saat kita menanyakan sebuah pertanyaan dengan jawaban A (dan dia juga tahu jawabannya adl A) pada seorang OP (orang percobaan). Namun jawaban yg dia berikan adl B (yang dalam konteks ini B adl ‘bohong’) maka jawaban B memilik informasi yg sama pentingnya dengan jawaban A. Kita memiliki fakta bahwa OP berbohong? Memang dilapangan tidak akan sesederhana ini, namun base berpikirnya seperti ini, sedangkan contoh ini adalah hasil rekayasa pengkondisian sederhana agar bisa menjadi acuan contoh untuk melengkapi essei ini. Kembali ke topik. Lalu pertanyaan tepat yg muncul, ‘Ada apa sampa dia berbohong?’ Yup, sekali lagi tepat, subyeknya adalah manusia, bukan soal or jawaban.
    Fokus kita adalah manusia dan semua yang menyangkut manusia sebagai subyek, bukan manusia sebagai obyek or predikat pelengkap.
Kita menggali sesama kita manusia, apa yang melatarbelakangi sampai suatu pristiwa terjadi, meletakan sesama kita manusia pada tempat yg benar. Jika kita bisa melakukannya dan mau melakukannya, betapa indahnya hidup sebagai manusia tanpa punya rasa curiga atau tipu muslihat kepada sesama. Begitu juga Allah memandang manusia, tanpa ada rasa curiga atau tipu muslihat karena Dia memandang kita dengan manusiawi.
    Kenyataannya dalam gereja2, banyak tuhan-tuhan kecil yang berlaku sebagai ‘polisi dosa’, polisi yg mencari2 kesalahan oranglain, tanpa melihat balok di dalam matanya.
    Guys, tidak ada yang lebih baik darimu, tidak juga saya, tidak juga pendeta, bahkan tidak juga orang2 yg  berbuat amoral or asusila. Mereka semua sama baik dan sama buruknya dengan kita. Yang membedakan kita adl kasih karunia. Namun kalo karena kasih karunia kita menyombongkan diri justru sungguh memalukan, karena kasih karunia sendiri berarti kita yg tidak layak menjadi layak, bukan karena siapa kita atau bahkan usaha kita.
    Pesan moralnya, mulai lihat sesama kita manusia sama dengan diri kita, semartabat, sederajat, telanjang, useless, namun sangat berarti di mata-Nya. Di jamin hari2mu pasti lebih ringan dari kemarin ^^

five

Comments