Just Kidding
Berapa banyak orang yang sudah membuat kita diam seribu bahasa, or malu tujuh rupa, dan di akhir perbuatan mereka, mereka hanya berujar, "just kidding" *sambil ketawa ketiwi*. Mungkin memang hanya goyon, tapi sikonnya gak tepat (misalnya candain orang yg habis di putus ma cowonya), or kitanya memang yg sensitivf (diliatin aja udah ngambek, apa lagi diajak ngomong). Atau mungkin juga bercandanya tidak sedang bercanda.
Dulu, sewaktu SMU saya berkali-kali mengingatkan, "kalo bercanda tuh yg serius, jangan main-main" *dengan sikap seorang guru sambil nunjuk-nunju pake penggaris* (ya gak lah..). Mungkin sama seperti temen-temen saya sewaktu SMU, anda berpikir bahwa saya ini seorang yg sangat serius, tidak pernah tertawa, berkaca mata tebal, yg selalu berjalan dengan cepat, menunduk, sambil berpikir teori relatifitas itu keliru. Nyatanya memang saya sering memikirkan teori relatifitas, berjalan dengan cepat kelo sedang buru-buru, sambil nunduk karena malu kalo terlihat lagi belekan dan berkacamata tapi tidak tebal kok, sedang-sedang aja. Dan yg paling penting saya senang tertawa. Kata guru tertawa itu sehat. Tapi tertawa tanpa sebab itu pasti karena lupa minum obat.
Maksud dari "kalo bercanda tuh yg serius, jangan main-main" adl, jangan gunakan bercanda utk hal yg tidak pada fungsinya. Contoh, kalo kita ganti kata bercanda dengan kalimat mengerjakan yg lain seperti "kalo nyetir tuh yg serius, jangan main-main" berarti dapat disimpulkan menyetir bukan utk main-main. Tujuan menyetir adl membawa kendaraan + pengemudi + penumpang + bawaan sampe ditempat tujuan dengan baik (memang saat ini sudah banyak pergesaran fungsi dari menyetir itu sendiri, tapi kira-kira demikianlah fungsi yg diharapkan dari luluhur kita yg telah menciptakan kendaraan).
Dengan contoh yg nyerempet gak nyambungnya ini, disimpulkan kalo bercanda itu merupakan pekerjaan yg serius. Makanya karena bercanda itu pekerjaan yg seirus, orang di bayar untuk bercanda (walopun terkadang gak lucu), untuk membuat orang lain tertawa, untuk menghibur orang lain, sama seperti profesi yg lain, seperti pengacara (dibayar utk membebaskan tertuduh, walopun gak jadi bebas), dan dokter (dibayar utk menyembuhkan orang, walopun gak sembuh juga kudu bayar, bahkan yg ironis mati pun kudu bayar).
Tujuan dari bercanda kira-kira begin, membuat orang tertawa, menghibur, menyegarkan suasana, mengakrabkan hubungan, mempermudah pembicaraan. Ya boleh ditambahkan lagi dengan lebih ditail, tapi kira-kira begitulah. Nah sayangnya banyak dari kita tidak benar-benar demikina saat bercanda. Kebanyakan dari kita bercanda hanya untuk membuat dirikita tertawa atau senang, sedangkan orang lain justru merasa tidak terhibur, bahkan marah. Bahkan yg parah bercanda utk mempermalukan sso. Nah yg kek gini-ini nih yg saya maksud tidak serius dalam bercanda. Kita sebenarnya tidak benar-benar sedang bercanda namun sedang memperdayai sesama kita. Acap kali kita melontarkan guyon untuk menghina sso, or sesungguhnya menjatuhkan dia sambil berlindung dibalik kata-kata, "just kidding" (hayo ngaku loe?!). Dari yg motifasinya hanya untuk menyenangkan diri sendiri (loe pikir lucu?!) sampe memang ingin mempermalukan orang tsb di depan umum (percayalah, ada orang-orang yg melakukan ini demi bisnis, popularitas bahkan gebetan).
Saya sendiri sering mengalaminya, tentunya sebagai korban. Salah-satunya terjadi beberapa tahun yg lalu. Setidaknya saya masih ingat kejadian ini karena sempat shock, karena yg bicara saya anggap teman, karena menurut saya dia punya kredibilitas utk tidak melakukan hal ini. But saya cerita bukan karena masih dendam, tapi semata-mata hanya sebagai contoh nyata dari kehidupan yg ternyata tidak semuanya bisa dilihat dengan mata. Sebut saja orang ini A. Si A ini saat itu berpacaran dengan teman dekat saya, yg kita sebut saja B. Kami satu mobil sedang muter-muter kota, yg kita sebut saja kota C, dengan mobil D (hehehe fariabelnya banyak pisan yak). Terus sembari muter-muter kek helikopter di tengah kota C, tercetuslah sebuah pembicaraan berandai-andai nanti kalo sudah punya anak. Kira-kira beginilah isi pembicaraannya.
A: eh Da, tadi kami ngbrol2 mau punya anak berapa. Loe mau punya anak berapa?
gw: dua aja cukup, biar menyukseskan KB. Loe?
A: gw juga gak mau banyak2, pa lagi nih sih B juga bakalan mau jadi wanita kerir
B: iya, nanti gak keurus kalo banyak2. Eh nanti kalo gw punya anak, nitip di rumah loe aja ya Nes?
gw: wew, yg bikin siapa yg ngurus siapa. Ogah ah, nanti anak2 loe pada gak ngenalin siapa orangtuanya. Ada juga pas sewaktu kalian ngambil, anak loe ngomong ke gw, "pa siapa tante ma om itu?" brabeh kan
A: gak lah, ada juga anak gw bakalan ngomong, "pa, takut! Siapa tuh om2 item bangat kek aspal??!" sambil lari2 ke gw
Wew keren bangat tuh ngomongnya, kalo gak ada ortunya si B sudah gw jadikan pajangan pohon natal. Iye tau gw item, tapi gak sama seperti aspal yak.
Sontak abis ngomong gitu, suasana jadi dingin gitu. Ortu si B cuma senyum tipis, sedangkan temen gw B berusaha cairkan suasana sambil ngomong, "ih jahat bangat sih loe." sambil senyum gak enak ke saya. Saya sangat-sangat tidak bermasalah dengan guyon tsb, apa lagi gambar diri saya sudah pulih sejak ikut dan paham mengenai Hati Bapa. Sempat sih terbersit utk membalas joke tsb, or paling tidak menegur secara halus, cuma saya tahan karena sangat-sangat menghonrmati teman saya B.
Terkadang kita bisa sangat peka, sehingga tahu guyon tsb benar-benar bermaksud canda, atau sindiran, atau mempermainkan orang lain.
Raja Daud sangat paham mengenai bagaimana hati manusia sehingga dia menulis ‘ …Demikianlah orang yang peperdaya sesamanya dan berkata :"aku hanya bersandagurau"…’ (Ams 26:19). Mungkin kayanya biasa bangat, atau hal yg terlalu dibesar-besarkan. Cuma kita tidak akan benar-benar pernah tahu apa yang telah kita lakukan saat melukai hati orang dengan kata-kata kita. Lagi pula kalo mau jujur, sesungguhnya tidak ada yg menganggap lucu saat dirinya menjadi bahan tertawaan, apa lagi fisik mereka, tidak saya tidak juga anda, karena pasti anda akan berakhir sebagai salah-satu anggota serimulat. Justru orang-orang akan mentertawakan ketololan anda.
Mulai sekarang berhentilah menjadikan fisik or orang lain sebagai obyek guyon anda (karena anda tidak pernah tahu mereka benar-benar menggap hal yg lucu atau marah), dan berhentilah bercanda jika tujuan anda sebenarnya untuk mempermalukan seseorang. Jika ada orang yg ingin anda tertawakan, mulailah dari diri anda sendiri.
Orang yang cerdas terlihat dari cara berpenampilan, dan joke-nya.
Jo