Archive forMarch, 2008

Puisi vs Prosa

Beberapa waktu lalu gw sempat lihat disebuah forum yg memiliki thread tentang kumpulan puisi anggotanya.  Ada juga beberapa blog yg mengatasnamakan puisi. Namun setelah gw baca, isinya gak jauh berbeda dari narasi, atau — mungkin dalam bentuk seni tertulis lainnya — prosa.

Ya sah-sah saja sih untuk mengatakan karya mereka puisi, cuma sebijaknya, sebelum kita memakai sebuah atribut, kita perlu mengetahui atribut tsb.

Puisi dan prosa, merupakan bentuk seni tertulis, yg memiliki perbedaan sekaligus persamaan.

Ciri-ciri puisi,

  • menggunakan bahasa sebagai kualitas estetiknya tambahan, atau selain arti semantiknya
  • wujud estetika bahasanya dengan pengulangan yg disengaja
  • memiliki meter dan rima
  • dapat memiliki satu kata/satu suku kata

ciri-ciri prosa,

  • memiliki ritme yg lebih besar dari puisi
  • bahasanya lebih sesuai dengan arti leksikalnya
  • memiliki bentuk yg bebas
  • lebih berterus-terang (prosa=terustrrang, latin)

Coba kita cek puisi ini (paling tidak itulah yg dikatakan pemiliknya). Gw ambil ini dari sebuah forum.

karna cinta itu sungguh tak egois
karna cinta itu sungguh memahami

karna cinta itu sungguh tak menyakiti

ia hanya memberikan warna indah dalam hitam putih hidupmu

ia hanya memberikan nada-nada dalam film bisumu

ia hanya memberikan sinar dalam kegelapanmu

Apakah ada pengulangan? Ok, ada. Apakah ada bahasa estetikanya? Tarohlah, ada — karena nilai sebuah estetika relatif. Tapi adakah makna tersembunyi dari puisi ini? Sori, gw gak lihat. Menurut gw ini hanya majas Antropomorfisme. Selain itu, gw gak ada lihat hal lainnya — mungkin kamu bisa? Selain itu, apakah ada meter dan rima? Gw juga gak lihat, yg ada hanya rima.

Lantas puisi itu yg bagaimana?
Gw coba interpretasikan puisi diatas dalam bingkai puisi,

cinta,
melepas aku, membelah ingin
melepas bingung, bercampur heran
melepas benci, membalut hati

cinta mu,
bermandi cahya dalam warna
nada dalam simfoni jiwa
sulur temeram tergeletak jejak

hanya ada cinta dalam mu

Bukan bermaksud menggurui, tapi setidaknya kita mengerti apa yg kita tempelkan dalam seni kita. Gw sendiri, penikmat puisi, mau dan masih belajar tentang puisi.

Puisi itu seperti cinta pada pandangan pertama; saat loe baca puisi tsb, loe langsung suka dengan puisi tsb (walopun mungkin loe gak tau maknanya). Begitu juga sebaliknya.

Puisi itu menyisahkan makna tanpa kata dalam benak, saat selesai membacanya. Puisi tidak perlu loe mengerti (karena utk mengerti itu berarti perlu interpretasi, dan interpretasi yg baik perlu sekolah). Puisi hanya perlu di baca dan dicintai.

Kalo loe selesai membaca sebuah puisi, namun yg tertinggal hanya kata-kata, berarti puisi tsb bukan utk pintu hatimu.

Comments

Re:Koneksinya Jelek Nih….

kapan gw bisa berhenti untuk menunggumu,
menunggu dalam bisu dan gelapnya sunyi?

Kapan kata delay dan pending hilang dari kata-kata kita?

Kapan tirai berdinding dingin bisa sirna,
seperti bulan yg lelap di sudut hatimu?

Kapan penantianku harus berakhir? Kapan…..

Kapan-kapan coy, kalo koneksi sudah bagus! Huehuehue

Comments

bodoh

Dasar bodoh, seharusnya gw tahu dari awal, teman gw hanya sepi. Seharusnya gw sadar lebih cepat. Tapi dasar bodoh, masih saja berharap dalam senyum orang lain. Masih saja berharap….. mengharapkan pelangi; hanya bisa dilihat, tidak bisa di genggam.

Dasar bodoh, berapa banyak sakit sampai gw yakin dunia ini bias, hanya bayang-bayang mimpi. Bukannya mimpi dan realita tidak memiliki batas? Dan gw tersesat.

Dasar bodoh, membiarkan diri gw diseret perasaan. Membiarkan sso menjadi kepingan hati terlalu cepat. Sekarnag apa? Harus gw congkel kembali kan.

Bukannya, ‘di dalam banyak bicara pasti ada pelanggaran’?

Kapan loe mau pintar??

Comments

seperti pelangi

Seperti pelangi
hanya bisa menatapmu, tak mungkin memeluk
Hanya ada di hati, tak mungkin terucap

Seharusnya aku tak pernah mencintamu
walupun semua indah, seperti mimpi

Ada yang tak mungkin kumiliki….

seperti pelang,
tak mampu kumiliki

Ingin kulupakan, namu selalu merindukan…

di gubah dari lagu Dgyta dengan judul yang sama

Comments

Jalan Hidup

Tidak ada yg tahu dimana arahnya
tidak manusia, tidak juga setan

Bertemu, berpisah, dengan satu alasan

sebuah misteri yg sama anehnya dengan cinta
sebuah jalan tanpa peta

Hanya satu, dan satu langkah untuk dilihat
Hanya pilihan, dan pilihan untuk melewatinya
Hanya harapan, dan harapan untuk tetap berjalan

Naega Seuntaekhan Giliya

jo

Comments