Jurnal kecoak busuk
Ternyata cinta hanya milik orang-orang kaya, hanya milik orang-orang pintar, berparas rupawan, dan yang kebetulan bersuku dan beras sama. Ketulusan dan kesetiaan sudah menjadi cerita lama nan usang, atau mungkin tidak pernah ada sebenarnya, hanya ada di negri dongeng, di mana harapan dan imajinasi bertemu dalam jagad karya, bukan dalam hidup yang sesungguhnya. Apa lagi bagi kecoak busuk, hanya dalam lembaran ini saja cinta itu ada.
Apa yang mampu dijual oleh kecoak busuk, sehingga dia pantas mendapatkan cinta?
Air mata? Itu jawaban goblok, karena kecoak tidak bisa menangis.
Mungkin karena warna kulit? Itu lebih goblok, karena mana ada orang suka warna hitam?!!
Ah, aku tahu! Sahut kecoak. Karena aku menjijikan!
Dengan gembiranya kecoak menemukan jawaban untuk dirinya sendiri. Setahuku, memang kecoak saat ini sedang dicintai, sebagai extreme kuliner.
Mungkin jika tidak ada pilihan lain, perempuan lebih memilih sebagai pelacur dari pada harus memilih kecoak busuk – karena pada kenyataannya memang tidak ada perempuan yang makan kecoak busuk, apa lagi seorang ratu yang cantik, benar-benar kecoak busuk merindukan tuk di makan.
Suatu waktu, kecoak busuk berjumpa dengan ratu, ratu yang manis rupanya, sayang itu adalah ratu kenyataan. Parasnya tidak sesuai dengan kenyataan. Saat di mana kecoak berjumpa dengan Ratu Kenyataan, saat itu juga dirinya rusak, dan tidak mungkin dapat diperbaiki lagi. Seperti boneka kayu kehilangan tali, kehilangan pemain, tergletak ringsak di sudut gudang. Sudah sekarat dan tidak dapat diperbaiki lagi. Semua karena satu hal. Semua karena satu orang. Seandainya otak itu dapat direbus, sehingga tidak pernah ada lembaran ingatan mengenai putri yang pernah dicintainya.
Dengan setengah badan terpisah, dia bertanya, ‘Kenapa Tuhan menghukum aku disini? Apa salahku? Hahahahaha tentu saja karena aku kecoak busuk!’. Bukan. Memang bukan begini suaranya. Aku menterjemahkannya agar kamu mengerti apa yang diucapkan kecoak busuk.
Hidupnya sangat singkat, demikian juga isinya; penderitaan, duka, patah hati. Sebentar lagi semua ini akan selesai, sama seperti hari-hari dan tahun-tahun yang tidak terasa terlewati oleh kecoak busuk. Sama seperti hari ini, tidak terasa sudah hampir senja, dan akhirnya satu hari lagi terlewati - satu bulan lagi terlewati - satu tahun lagi terlewati - satu kehidupan lagi terlewati - dan semuanya itu akan berhenti disana. Maka berakhirlah kisah hidup si kecoak busuk.
May Said,
December 17, 2008 @ 7:03 am
joe,, baca aja buku Dee yang filosofi kopi. Bab: Rico De Coro.
Cinta gak se-diskriminan itu kok…. =)
Ribka Said,
December 17, 2008 @ 6:41 pm
kasian yah kecoanya…
udah jadi kecoa ajah dah kasian…
ditambahin kecoa busuk…
ehmmm….
comment yg gazebooo bener neh…wkwkwkkkkk ;p
joe Said,
December 17, 2008 @ 6:42 pm
Justru ini prosa beberapa tahun lalu. Gw tulis ini sewaktu belum melek blog. Terus setahun kemudian gw liat&baca kumpulan cerpen Dee, dan gw curiga kalo diam-diam dia mencuri ide gw! Awas pembalasan dari gw Dee, si Raja kecoak busuk.
Eniwei tq untuk commentnya. Tapi sampe saat ini si kecoak belum pernah nemu tuh cinta tanpa diskriminasi… Padahal cinta datang utk menyatukan perbedaan. Entah di mana salahnya.