Archive forJanuary, 2009

Wajah Mashuri

Di wajahmu aku tersudut dalam luka lalu. Tidak kutemukan kini yang bisa mencuri hatiku, menekuri pintu, juga jendela, dengan ruang terbuka, sehingga kita bisa saling mendesah seperti angin.
Aku tersudut di ruang yang sama, ketika seprempat abad memapahku ke lekuk pipi, rongga mata, juga sepi yang tiba-tiba membujur di keningmu, amsal pikiran-pikiran beku. Aku seperti selalu saja berpulang ke palung galibmu, hingga kurasakan salib menelantangkanku di ranjang karang, lalu cambuk gelombang menghujamku dengan sayatan-sayatan laut.
Pada kegaiban yang terwarta dari bibirmu: ceracau asing, bahasa-bahasa gasing, juga setumpuk mimpi yang meletup dari kebisuan, memalingkanku untuk memberimu ruang di matakku. Sungguh telingaku tidak tuli untuk mendengar nyanyian sunyimu. Sungguh derap dadaku tak segelap sumur tanpa angan-angan, ketika kutangkap riuh redap puisi yang kau lulur dari bibir dan takdirmu. Sungguh alur kata yang melata dan kubur panjang penyair yang sempat tak tercetak di kiblat buku-buku, seperti seorang gasang yang tidak terkendali untuk ditemali kembali bermadah.
Tetapi segalanya demikian senyap, sesenyap pikiran-pikiranku ketika hari tidak kunjung berlalu ke siang, ketika mimpi masih saja dibuhulkan pelangi malam, ketika gerak selalu saja berkumpar diam.
Di wajahmu aku kembali tersudut ke luka lalu. Seperti seorang peziarah yang terbata membaca denah, seperti anak perawan sedang bercinta, seperti orang yang hilang rimba, ketika nama-nama seasing dunia ketika Adam turun tuk pertama.
Segalanya baru, meski sebenarnya bukan baru. Segalanya seperti kabut yang diungsikan biru ke luas samudera. Dihempas dan dikaramkan ombak tak berpeta lalu segalanya luka, meluka menganga di biduanku tak tertera: mengais-ngais ritmis kata di batas cakrawala.

Comments

Wendoko

Kalo ingat puisi ini, ingatanku mamaku pada seorang teman lama yang baru-baru ini berjumpa. Kalo kamu penasaran, coba dengarkan nyanyian empat babak ini,
——————

Seperti ku kenal senja itu, ketika cuaca begitu lindap.
Langit bagai lengkungan payung legam besi,
dengan bongkahan awan, dan sebelum gelap -
udara melembab dan angin tak bergerak.

Seperti ku kenal senja itu, ketika gerimis beringsut reda.
Rintik air bagai tirai tersamar, tapi begitu rapat dan sekejap,
semak dan pohonan memantulkan warna -
dan mungkin cahaya.

Tetapi embun itu rontok dari daun.
Lalu kekasih, seperti bertahun yang lalu
kau pun merasa ada yang tersisa dari musim;
ada yang terlambat, dan sia-sia
sesaat ketika cuaca meranggas
dan musim hampir senja.

Tetapi, bukankah matahari hanya sebentar.
Juga angin atau musim.
Tetapi, apakah kenangan bisa jadi lain,
sementara dedaunan patah dari ranting.
Tetapi, haruskah mengulang sejarah,
hanya untuk menemukan kisah.

Dan selalu, embun itu pun
rontok dari daun

Siapakah kau yang tiba-tiba melintas dalam benakku?
Kadang cinta adalah embun, katamu.
Ia bisa hinggap di rumput, daun, dan menghembuskan kesejukan.
Tetapi selepas pagi, ia mengering - lalu lenyap.

Siapakah kau yang tiba-tiba melintas dalam benakku?
Di tempat ini musim sore tak pernah abadi.
Saat malam turun, dan sunyi mengetuk pintu dan jendela.
Seperti kabut, kadang cinta adalah mimpi dan sinetron.

Dan sebelum lepas senja
apakah aku pun lantas berkata,
bahwa musim sudah berubah…

Tetapi bukankah sesaat cuaca begitu meneduh
dan langit yang jernih, dengan awan dan bening cahaya,
atau matahari yang lindap tetapi menajamkan warna
adalah juga lanskap yang dulu…

Hanya kini
kau tak ada.

Comments