Wajah Mashuri

Di wajahmu aku tersudut dalam luka lalu. Tidak kutemukan kini yang bisa mencuri hatiku, menekuri pintu, juga jendela, dengan ruang terbuka, sehingga kita bisa saling mendesah seperti angin.
Aku tersudut di ruang yang sama, ketika seprempat abad memapahku ke lekuk pipi, rongga mata, juga sepi yang tiba-tiba membujur di keningmu, amsal pikiran-pikiran beku. Aku seperti selalu saja berpulang ke palung galibmu, hingga kurasakan salib menelantangkanku di ranjang karang, lalu cambuk gelombang menghujamku dengan sayatan-sayatan laut.
Pada kegaiban yang terwarta dari bibirmu: ceracau asing, bahasa-bahasa gasing, juga setumpuk mimpi yang meletup dari kebisuan, memalingkanku untuk memberimu ruang di matakku. Sungguh telingaku tidak tuli untuk mendengar nyanyian sunyimu. Sungguh derap dadaku tak segelap sumur tanpa angan-angan, ketika kutangkap riuh redap puisi yang kau lulur dari bibir dan takdirmu. Sungguh alur kata yang melata dan kubur panjang penyair yang sempat tak tercetak di kiblat buku-buku, seperti seorang gasang yang tidak terkendali untuk ditemali kembali bermadah.
Tetapi segalanya demikian senyap, sesenyap pikiran-pikiranku ketika hari tidak kunjung berlalu ke siang, ketika mimpi masih saja dibuhulkan pelangi malam, ketika gerak selalu saja berkumpar diam.
Di wajahmu aku kembali tersudut ke luka lalu. Seperti seorang peziarah yang terbata membaca denah, seperti anak perawan sedang bercinta, seperti orang yang hilang rimba, ketika nama-nama seasing dunia ketika Adam turun tuk pertama.
Segalanya baru, meski sebenarnya bukan baru. Segalanya seperti kabut yang diungsikan biru ke luas samudera. Dihempas dan dikaramkan ombak tak berpeta lalu segalanya luka, meluka menganga di biduanku tak tertera: mengais-ngais ritmis kata di batas cakrawala.

Leave a Comment