Wendoko
Kalo ingat puisi ini, ingatanku mamaku pada seorang teman lama yang baru-baru ini berjumpa. Kalo kamu penasaran, coba dengarkan nyanyian empat babak ini,
——————
Seperti ku kenal senja itu, ketika cuaca begitu lindap.
Langit bagai lengkungan payung legam besi,
dengan bongkahan awan, dan sebelum gelap -
udara melembab dan angin tak bergerak.
Seperti ku kenal senja itu, ketika gerimis beringsut reda.
Rintik air bagai tirai tersamar, tapi begitu rapat dan sekejap,
semak dan pohonan memantulkan warna -
dan mungkin cahaya.
Tetapi embun itu rontok dari daun.
Lalu kekasih, seperti bertahun yang lalu
kau pun merasa ada yang tersisa dari musim;
ada yang terlambat, dan sia-sia
sesaat ketika cuaca meranggas
dan musim hampir senja.
Tetapi, bukankah matahari hanya sebentar.
Juga angin atau musim.
Tetapi, apakah kenangan bisa jadi lain,
sementara dedaunan patah dari ranting.
Tetapi, haruskah mengulang sejarah,
hanya untuk menemukan kisah.
Dan selalu, embun itu pun
rontok dari daun
Siapakah kau yang tiba-tiba melintas dalam benakku?
Kadang cinta adalah embun, katamu.
Ia bisa hinggap di rumput, daun, dan menghembuskan kesejukan.
Tetapi selepas pagi, ia mengering - lalu lenyap.
Siapakah kau yang tiba-tiba melintas dalam benakku?
Di tempat ini musim sore tak pernah abadi.
Saat malam turun, dan sunyi mengetuk pintu dan jendela.
Seperti kabut, kadang cinta adalah mimpi dan sinetron.
Dan sebelum lepas senja
apakah aku pun lantas berkata,
bahwa musim sudah berubah…
Tetapi bukankah sesaat cuaca begitu meneduh
dan langit yang jernih, dengan awan dan bening cahaya,
atau matahari yang lindap tetapi menajamkan warna
adalah juga lanskap yang dulu…
Hanya kini
kau tak ada.