Archive forFebruary, 2009

Aku Tidak akan Menangis di Sini

Aku tidak akan menangis di sini,

walaupun sayap-sayapku dipatahkan secara serampangan,
diserakan ke dalam lumpur praduga dengan caci maki dan jeritan yang mengoyak telinga. Lemparkan semua sampah itu ke mukaku, bahkan apa yang tidak aku lakukan, tuduhkan semua itu, tapi aku tidak akan menangis di sini.

Saat mantra-mantra pengikat jiwa dibacakan, juga sihir-sihir pelepas raga yang membuat hati menjerti, berharap aku menyerah dan melepas pasi-pasir harapan yang ku genggam sejak lama, hanya agar aku bisa berdiri memandang mentari sore seorang diri. Tapi aku tidak akan menangis di sini.

Seruan kelabang malam mencabik kulit, menusuk dalam ke sukma, menguburku ke dalam kubur ke tujuh, berharap aku tunduk pada maut. Walaupun tenagaku hampir habis, aku tidak akan menangis di sini.

Ku kumpulkan tetesan embun di dalam sunyi, menatap masa depan yang entah seperti apa bentuknya, mencari sso yang bisa aku tumpahkan pedih ini bersamanya, menjerit bersamanya, tanpa perlu takut untuk dicurigai, tanpa perlu takut diragukan, karena aku tahu orang itu akanĀ  mempercayai aku sepenuhnya, tapi tidak di sini, tidak di sini aku menangis.

Comments (1)

ceritaku

Di saat-saat seperti ini, aku merindukanmu, ceritaku. Saat aku galau, dengan tetesan air mata yang membuatku kabur akan apa yang disebut hidup, cinta dan persahabatan. Saat segalanya seperti kabut pagi yang diungsikan biru ke cerobong-cerobong rokok jalan, dihempas oleh motor tak berSIM dan semuanya menjadi meluka menganga di biduanku tak tertera; mengais-ngais pedal di batas kata.

Pagi ini hatiku tersesat, berpaku pada layar kosong tanpa mengerti nurani kalbu. Anganku memburu sepenggal ingatanku yang mengisih malam-malamku seperti lilin malam yang lunglali. Kenapa aku harus dinilai? Diperlakukan dengan prasangka, asumsi, dan semua bau busuk itu? Apakah aku seperti momok ujian yang ingin sekali dilempar saat susah untuk menurut semua aturan sosial? Apakah aku harus menjadi seperti anjing yang menurut saja kemauan majikanku yang bermarga Sosial? Atau mungkin aku gak pernah akan cocok dengan kota ini? Dengan orang-orangnya. Atau mungkin aku memang harus terdampar pada sisi ruang hampa sehingga semua orang bisa menjalankan kembali hidup mereka tanpa harus merasa terganggu dan terancam olehku.

Kenapa harus ada epik dalam drama kehidupan?

Karena mungkin aku bukan tokoh yang cocok dalam drama ini…… Mungkin karena itu aku selalu merindukan ceritaku ini, saat sekelilingku pudar dan lampu mulai padam, meninggalkan diriku terbujur kaku, dengan air mata yang mengalir tanpa nafas….

Comments (1)