ceritaku
Di saat-saat seperti ini, aku merindukanmu, ceritaku. Saat aku galau, dengan tetesan air mata yang membuatku kabur akan apa yang disebut hidup, cinta dan persahabatan. Saat segalanya seperti kabut pagi yang diungsikan biru ke cerobong-cerobong rokok jalan, dihempas oleh motor tak berSIM dan semuanya menjadi meluka menganga di biduanku tak tertera; mengais-ngais pedal di batas kata.
Pagi ini hatiku tersesat, berpaku pada layar kosong tanpa mengerti nurani kalbu. Anganku memburu sepenggal ingatanku yang mengisih malam-malamku seperti lilin malam yang lunglali. Kenapa aku harus dinilai? Diperlakukan dengan prasangka, asumsi, dan semua bau busuk itu? Apakah aku seperti momok ujian yang ingin sekali dilempar saat susah untuk menurut semua aturan sosial? Apakah aku harus menjadi seperti anjing yang menurut saja kemauan majikanku yang bermarga Sosial? Atau mungkin aku gak pernah akan cocok dengan kota ini? Dengan orang-orangnya. Atau mungkin aku memang harus terdampar pada sisi ruang hampa sehingga semua orang bisa menjalankan kembali hidup mereka tanpa harus merasa terganggu dan terancam olehku.
Kenapa harus ada epik dalam drama kehidupan?
Karena mungkin aku bukan tokoh yang cocok dalam drama ini…… Mungkin karena itu aku selalu merindukan ceritaku ini, saat sekelilingku pudar dan lampu mulai padam, meninggalkan diriku terbujur kaku, dengan air mata yang mengalir tanpa nafas….
ribz-kaz Said,
February 15, 2009 @ 11:54 pm
uuuhhhhh…