aku di sini

Berpasang menyongsong mentari,
aku di sini
Deru jerit bagai riak ari,
dan aku di sini

Pelupuk terangkat
Kau, dia, mu
Menggulung mimpi

Satu-satu

Rindu

Pergi

Jangan

Kata

KAU

Sulur memanjang
Bayangmu merekah
melepas pergi bertemu ambang
berjalan dalam sendu tertitih

Beriring-iring mengjangkau pagi,
aku di sini
Gelap menarik lelap tidur pergi,
dan aku di sini

jp

Comments (2)

Aku Butuh Kau….

Sumpah gw stuck!!!! Jagad imajiner gw gembos, ide gw menguap seperti kringat yg kering di kulit. Merangkai kata saja seperti anak perawan bercinta - bego!!

Padahal hari ini gw sudah berharap akan menemukan bidadari imajinasiku untuk menyambung cerita. Memang kata-kata tsb muncul di kepala gw yg kosong ini. Memang ide menari-menari dengan sombong dalam batok kepala ini. Sayangnya kau tidak mau ku tangkap.  Kau lari kian-kemari sehingga seperti orang dungu aku mengejar kau. Brengsek!

Ayolah ide, kemarilah, biar kujadikan kau hidup dalam jagad real, bukan sekedar imajinasi terbatas duniaku. Atau perlukah engkau ku rayu seperti biduan malam, yg mendapatkannya tidak semudah membayar soft drink?

Gw menunggu di sini, hanya untuk kau datangi. Hanya untuk menjaring kau.

Comments

Tujuh Maafku…

Pernah gak loe buat kesalahan, dan saat loe berusaha menjelaskannya, justru lebih banyak lagi kesalahan yg loe buat? Pada akhirnya loe kehilangan kemampuan untuk menjelaskan apa-apa dan menyerah.

Mungkin itu kali gunanya kata maaf ya? Menjelaskan apa yg gak terjelaskan dari sebuah kesalahan. Memperbaiki keretakan dari perpecahan. Sebuah rangkuman dari ribuan kata penyesalan.

Tapi tidak jarang jg kita mendapat penolakannya dengan kalimat, memangnya hanya dengan maaf semuanya akan selesai??

Apa lagi sebenarnya kita merasa tidak bersalah, padahal itu sudah membuat kawan kita atau sso kehilangan muka dan marah.

Mungkin bagi beberapa orang, ok mungkin bagi gw sendiri, susah sekali untuk mengucapkan kata ini. Apa lagi jika gw gak merasa bersalah, dan gw jg bukan orang yg menggunakannya sebagai kendaraan untuk menghindari konflik. Mungkin karena bagi gw, terlalu sering mengobral kata maaf, membuat gw semakin cepat kehilangannya.

Kedengarannya sombong ya? Bukan hanya loe, gw pun dulu berpikir demikian. Justru karena kalimat itu gw dapat dari sso yg terlalu banyak menyakiti gw, tapi justru permintaan maaf-nya yg paling gw tunggu sampai sekarang.

Tapi benar gak sih satu kata dapat menyelesaikan persoalan?

Katanya kalo benar maaf itu ada, penjara gak akan ada gunanya. Yah gw gak taulah. Dan lagi gw gak ngurus penjara penuh atau kosong, bukan gw penjaganya. Hanya saja yg gw tau, saat sso tidak bisa me-maaf-kan, justru dengan rela hati dia memenjarakan hidupnya.

Mungkin loe gak akan mengerti tulisan ini kawan, tapi itu gak masalah, karena gw terlalu bodoh untuk merangkai kalimat indah penunjuk penyesalan. Yang tersisa hanya satu kata ini saja….

Gw minta maaf…..

Comments

Jangan Bunuh Cinta

Hendaknya saling memelihara dan menjaga di dalam cinta…

Saat keinginan daging berusaha merebut hatimu,
maka tanpa diduga, cinta merayap pergi seolah semut.
Saat harapan dan keinginan hanya uap tanpa makna,
maka aku berduka untuk sejatinya cinta yg telah mati.

Jangan bunuh cinta dengan DUSTA
Jangan tikam dengan NAFSU

Cinta yg sesungguhnya saat kita terus berharap,
berusaha melakukan yg terbaik untuknya,
dan mengajar yg terbaik untukmu.

Sering didengar dan mudah diucap
namun salah jika berpikir melihatnya

Comments

Sebuah dongeng

Sebuah dongeng, dalam rangkaian dongeng sebelum tidur…

Aku memandang matanya, melihat bibirnya
dan aku menjadi bodoh

Aku ingin ia disisiku lebih dari apapun juga
bahkan disaat hal itu mustahil

Kupejamkan mataku dan aku melihat senyumnya
lekat dengan batinku

Ketuk jantungku memburu saat jemariku digenggamnya
dan ada ia dekat denganku… disisiku

Comments (1)

Maukah…

Jika kamu berbaik hati
maukah kau menolongku
membebaskan hatiku darimu

Atau jika tidak,
kau boleh memenjarakannya di sana
asalkan kau menemaniku selamanya

Comments (2)

Puisi vs Prosa

Beberapa waktu lalu gw sempat lihat disebuah forum yg memiliki thread tentang kumpulan puisi anggotanya.  Ada juga beberapa blog yg mengatasnamakan puisi. Namun setelah gw baca, isinya gak jauh berbeda dari narasi, atau — mungkin dalam bentuk seni tertulis lainnya — prosa.

Ya sah-sah saja sih untuk mengatakan karya mereka puisi, cuma sebijaknya, sebelum kita memakai sebuah atribut, kita perlu mengetahui atribut tsb.

Puisi dan prosa, merupakan bentuk seni tertulis, yg memiliki perbedaan sekaligus persamaan.

Ciri-ciri puisi,

  • menggunakan bahasa sebagai kualitas estetiknya tambahan, atau selain arti semantiknya
  • wujud estetika bahasanya dengan pengulangan yg disengaja
  • memiliki meter dan rima
  • dapat memiliki satu kata/satu suku kata

ciri-ciri prosa,

  • memiliki ritme yg lebih besar dari puisi
  • bahasanya lebih sesuai dengan arti leksikalnya
  • memiliki bentuk yg bebas
  • lebih berterus-terang (prosa=terustrrang, latin)

Coba kita cek puisi ini (paling tidak itulah yg dikatakan pemiliknya). Gw ambil ini dari sebuah forum.

karna cinta itu sungguh tak egois
karna cinta itu sungguh memahami

karna cinta itu sungguh tak menyakiti

ia hanya memberikan warna indah dalam hitam putih hidupmu

ia hanya memberikan nada-nada dalam film bisumu

ia hanya memberikan sinar dalam kegelapanmu

Apakah ada pengulangan? Ok, ada. Apakah ada bahasa estetikanya? Tarohlah, ada — karena nilai sebuah estetika relatif. Tapi adakah makna tersembunyi dari puisi ini? Sori, gw gak lihat. Menurut gw ini hanya majas Antropomorfisme. Selain itu, gw gak ada lihat hal lainnya — mungkin kamu bisa? Selain itu, apakah ada meter dan rima? Gw juga gak lihat, yg ada hanya rima.

Lantas puisi itu yg bagaimana?
Gw coba interpretasikan puisi diatas dalam bingkai puisi,

cinta,
melepas aku, membelah ingin
melepas bingung, bercampur heran
melepas benci, membalut hati

cinta mu,
bermandi cahya dalam warna
nada dalam simfoni jiwa
sulur temeram tergeletak jejak

hanya ada cinta dalam mu

Bukan bermaksud menggurui, tapi setidaknya kita mengerti apa yg kita tempelkan dalam seni kita. Gw sendiri, penikmat puisi, mau dan masih belajar tentang puisi.

Puisi itu seperti cinta pada pandangan pertama; saat loe baca puisi tsb, loe langsung suka dengan puisi tsb (walopun mungkin loe gak tau maknanya). Begitu juga sebaliknya.

Puisi itu menyisahkan makna tanpa kata dalam benak, saat selesai membacanya. Puisi tidak perlu loe mengerti (karena utk mengerti itu berarti perlu interpretasi, dan interpretasi yg baik perlu sekolah). Puisi hanya perlu di baca dan dicintai.

Kalo loe selesai membaca sebuah puisi, namun yg tertinggal hanya kata-kata, berarti puisi tsb bukan utk pintu hatimu.

Comments

Re:Koneksinya Jelek Nih….

kapan gw bisa berhenti untuk menunggumu,
menunggu dalam bisu dan gelapnya sunyi?

Kapan kata delay dan pending hilang dari kata-kata kita?

Kapan tirai berdinding dingin bisa sirna,
seperti bulan yg lelap di sudut hatimu?

Kapan penantianku harus berakhir? Kapan…..

Kapan-kapan coy, kalo koneksi sudah bagus! Huehuehue

Comments

bodoh

Dasar bodoh, seharusnya gw tahu dari awal, teman gw hanya sepi. Seharusnya gw sadar lebih cepat. Tapi dasar bodoh, masih saja berharap dalam senyum orang lain. Masih saja berharap….. mengharapkan pelangi; hanya bisa dilihat, tidak bisa di genggam.

Dasar bodoh, berapa banyak sakit sampai gw yakin dunia ini bias, hanya bayang-bayang mimpi. Bukannya mimpi dan realita tidak memiliki batas? Dan gw tersesat.

Dasar bodoh, membiarkan diri gw diseret perasaan. Membiarkan sso menjadi kepingan hati terlalu cepat. Sekarnag apa? Harus gw congkel kembali kan.

Bukannya, ‘di dalam banyak bicara pasti ada pelanggaran’?

Kapan loe mau pintar??

Comments

seperti pelangi

Seperti pelangi
hanya bisa menatapmu, tak mungkin memeluk
Hanya ada di hati, tak mungkin terucap

Seharusnya aku tak pernah mencintamu
walupun semua indah, seperti mimpi

Ada yang tak mungkin kumiliki….

seperti pelang,
tak mampu kumiliki

Ingin kulupakan, namu selalu merindukan…

di gubah dari lagu Dgyta dengan judul yang sama

Comments

« Previous entries · Next entries »